KAMI - rumah kecil yang saling menguatkan.

“Sajak ini lahir dari kata ‘kami’—sebuah bentuk sederhana yang menyimpan banyak cerita, tentang dua rasa yang dipertemukan, tentang langkah yang berjalan bersama, dan tentang makna yang perlahan tumbuh dalam kebersamaan.”



KAMI 

Di antara musim yang tak selalu bernama,
dua arah dipertemukan tanpa banyak tanya—
satu membawa hangat yang tenang,
satu menyimpan dingin yang diam-diam menang.

Tak jauh jarak waktu membentang,
hanya cukup untuk belajar 
saling mengimbang—
bukan tentang siapa lebih kuat berdiri,
melainkan siapa yang tak pergi saat sunyi.

Kami pernah keras pada rasa sendiri,
pernah pula hampir kehilangan arti—
namun waktu, dengan caranya yang sunyi,
mengajarkan: pulang tak selalu berarti kembali.

Kini, dalam ruang paling rahasia,
tumbuh satu detak yang belum bersuara—
kecil, namun mengikat semesta kami,
pelan, namun menuntun kami untuk berani.

Ia belum meminta apa-apa,
namun telah mengubah segalanya—
menjadikan dua kepala yang berbeda arah,
bersepakat dalam satu kata: “rumah.”

Kelak ia akan dipanggil sederhana,
sebuah bunyi yang memeluk harapan,
atau gema lembut yang membawa cahaya—
cukup untuk mengingatkan kami,
mengapa dulu kami memilih tetap ada.

Pada usia yang tak lagi ringan melangkah,
kami tak mencari sempurna—
hanya tak ingin menyerah.

Sebab mencintai bukan tentang selalu utuh,
melainkan tetap tinggal… 
meski hati pernah runtuh.

30 Maret 2026



“Dan pada akhirnya, ‘kami’ bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang dua yang tetap bertahan—meski banyak hal mencoba memisahkan, namun tetap memilih untuk berjalan dalam satu arah yang sama.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MERABA AKSARA - Awal dari segala rasa

SEMESTA LIRIH - Pada sunyi yang tak bersuara, semesta belajar bernapas perlahan.