SEMESTA LIRIH - Pada sunyi yang tak bersuara, semesta belajar bernapas perlahan.
“Ada waktu ketika arah tak lagi meminta untuk dimengerti, dan langkah hanya mengenal arti bertahan dalam diam yang tak pernah benar-benar kosong.”
--------------------------------------------------------------------------
SEMESTA LIRIH
Di bawah langit yang tak lagi ramah,
dua bayang menyatu dalam diam—
mengikat janji pada waktu
yang gemar menguji arah langkah.
Langkah-langkah pernah disemai harap,
musim enggan bersahabat;
benih-benih mimpi itu
seolah gugur sebelum sempat bernama.
Ada ruang-ruang sunyi
yang tak pernah mereka ceritakan,
tempat angka-angka menjelma kabut
arah pulang terasa samar.
Di sela runtuh yang tak bersuara,
mereka belajar membaca cahaya
dari sisa pijar yang enggan padam—
sebuah nyala kecil
yang menolak menjadi abu.
Di rahim waktu yang lembut,
sebutir semesta sedang dititipkan,
menyulam degup menjadi doa,
menjadikan cemas sebagai bahasa yang dipeluk perlahan.
Mereka tahu,
badai bukan untuk dihindari,
melainkan untuk dikenali nadinya—
agar langkah tak lagi goyah
meski tanah terasa rapuh.
Pada malam yang paling lirih,
ketika dunia mengecil dalam dada,
dua jiwa itu saling menggenggam
bukan untuk menahan jatuh,
melainkan untuk belajar bangkit
dengan cara yang lebih sunyi,
lebih dalam,
lebih hidup.
Sebab harapan—
bukan selalu tentang terang yang datang,
melainkan tentang keberanian
untuk tetap menyalakan diri
meski gelap enggan beranjak.
Priyo Noa 17 April 2026
______________________________________________
“hingga akhirnya mereka paham,
bahwa yang menjaga tetap hidup
bukan kerasnya dunia—
melainkan lirih yang tak pernah memilih padam.”
Komentar
Posting Komentar