ANAGNORISIS - Dua Hati yang Terlambat Jujur

Tidak semua rasa berani diucapkan.
Kadang, kita memilih diam dan berharap orang lain mengerti. Sampai akhirnya kita sadar, yang tidak pernah dikatakan seringkali jadi penyesalan.
--------------------------------------------------------------------------




ANAGNORISIS

Katanya cinta itu sederhana,
tapi kita sibuk menjadikannya teka-teki
yang jawabannya sengaja kita sembunyikan sendiri.

Aku mencintaimu—
dalam diam yang terlalu berisik di kepala,
sementara kau mencintaiku—
dalam diam yang terlalu pandai berpura-pura benci.

Lucu ya…
dua manusia saling menunggu,
sambil sama-sama memilih untuk tidak bergerak.

Aku kira ini bertepuk sebelah tangan,
ternyata kita hanya terlalu gengsi
untuk mengakui bahwa tangan kita sebenarnya saling mencari.

Kita hebat dalam satu hal:
menyiksa diri dengan asumsi.

Kau menatapku seolah aku luka,
aku menjauh seolah kau racun,
padahal kita sama-sama obat
yang tak pernah berani diminum.

Dan waktu—
si bajingan paling sabar itu—
perlahan mencuri kita dari kemungkinan.

Sampai akhirnya aku menyerah.
Bukan karena berhenti mencintai,
tapi karena lelah berharap pada seseorang
yang bahkan tak pernah mengaku bahwa ia juga berharap.

Aku jatuh.
Bukan sekali—
tapi berkali-kali,
di lubang yang sama:
kenangan yang tak pernah selesai.

Hari-hariku menjadi museum,
penuh kenangan yang tak boleh disentuh,
tapi tak bisa dibuang.

Aku berdamai—atau setidaknya pura-pura.
Belajar tersenyum pada luka,
belajar menerima bahwa tidak semua cinta
ditakdirkan untuk dimiliki.

Lalu aku mencoba lagi…
mencintai seseorang yang nyata,
yang hadir,
yang memilihku tanpa teka-teki.

Aku membangun rumah baru,
di atas puing-puing perasaan lama
yang kupaksa kuanggap telah mati.

Dan saat semuanya mulai terasa tenang—
Tuhan, dengan selera humornya yang aneh itu,
membuka kembali lembar yang belum sempat kita baca.

Kau kembali.

Bukan sebagai kenangan,
tapi sebagai jawaban.

Terlambat, tentu saja.
Karena hidup bukan draft yang bisa diedit ulang.

Kau bilang kau mencintaiku.
Aku tertawa—
bukan karena lucu,
tapi karena dunia terasa terlalu kejam
untuk disebut masuk akal.

Jadi selama ini…
kita hanya dua pengecut
yang terlalu sibuk menyembunyikan rasa
hingga kehilangan satu sama lain?

Kita membungkus cinta dengan kebencian,
menghias rindu dengan diam,
dan mengubur harapan
dengan ego yang kita kira harga diri.

Selamat.

Kita berhasil.
Berhasil kehilangan sesuatu
yang sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi.

Sekarang aku berdiri di antara dua dunia:
satu adalah janji yang telah kuikat dengan sakral,
yang lain adalah rasa
yang tak pernah sempat kuakhiri dengan benar.

Aku ingin setia—
tapi hatiku tahu siapa yang pertama ia pilih.

Aku ingin jujur—
tapi kenyataan terlalu terlambat untuk diperbaiki.

Dan kau…
kau datang membawa kebenaran
yang seharusnya kau ucapkan dulu,
saat aku masih punya pilihan
untuk tetap tinggal.

Kini kita hanya bisa saling menatap,
dengan cinta yang utuh
dan waktu yang sudah hancur.

Ironis, ya?
Kita akhirnya saling memiliki—
dalam perasaan,
tapi tidak dalam kehidupan.

Dan mungkin inilah hukuman paling adil:
mencintai dengan pasti,
di saat memiliki sudah tidak mungkin lagi.


Priyo_Noa | 6 April 2026



--------------------------------------------------------------------------
Pada akhirnya, kita memang saling mencintai.
Hanya saja, kita terlambat mengetahuinya.
Dan hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua untuk hal yang seharusnya sederhana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAMI - rumah kecil yang saling menguatkan.

MERABA AKSARA - Awal dari segala rasa

SEMESTA LIRIH - Pada sunyi yang tak bersuara, semesta belajar bernapas perlahan.