Api Lama di Rumah Orang - Tentang rasa yang masih menyala, di tempat yang tak lagi bisa disebut pulang.
Ada hal-hal yang sebenarnya sudah selesai, tapi tidak pernah benar-benar padam. Ia tetap tinggal, diam-diam, di tempat yang dulu pernah kita sebut rumah.
Tidak semua yang kita tinggalkan benar-benar hilang. Ada yang tetap menyala, meski kita sudah tak lagi punya tempat di dalamnya.
--------------------------------------------------------------------------
Api Lama di Rumah Orang
Kita pernah jadi cerita,
meski hanya sekadar singgah—
tapi sempat berencana menua bersama,
sebelum takdir memilih jadi penulis yang kejam.
Dulu kita berpisah tanpa titik,
hanya koma yang dipaksa berhenti.
Tak ada pamit yang utuh,
hanya ego yang lebih lantang dari rindu.
Lalu waktu berlalu—
seperti biasa, pura-pura menyembuhkan.
Kau menikah, aku pun begitu,
kita sama-sama belajar mencintai orang yang bukan kita.
Katanya hidup harus lanjut,
katanya masa lalu cukup dikenang,
tapi siapa sangka—
takdir rupanya hobi bercanda.
Kita dipertemukan lagi,
bukan di mimpi, bukan di kenangan,
tapi nyata… terlalu nyata…
di dunia yang sudah penuh cincin di jari.
Kau masih dengan senyum yang sama,
yang dulu membuatku lupa arah pulang.
Dan aku—
masih dengan bodoh yang sama,
yang tak pernah benar-benar pergi darimu.
Lucu ya,
kita sekarang pandai berpura-pura.
Berbicara seperti orang asing,
padahal hati kita seperti dua pencuri
yang sama-sama tahu letak harta terlarang.
Ada getar yang tak sopan,
ada rindu yang tak punya izin.
Cinta ini bukan lagi suci—
ia jadi api yang salah tempat,
hangat… tapi bisa membakar segalanya.
Kita berdiri di persimpangan moral,
antara kenangan dan tanggung jawab.
Dan ironisnya—
yang salah terasa paling hidup.
Kau bilang, “andai dulu…”
aku jawab, “takdir tak pernah tanya mau kita.”
Tapi mata kita saling mengkhianati,
seolah berkata:
“yang belum selesai, ternyata belum mati.”
Kini kita pulang ke rumah masing-masing,
membawa wajah yang tampak setia,
dan hati yang diam-diam memberontak.
Ah, cinta…
ternyata kau bukan soal memiliki,
tapi soal tahu diri—
meski perihnya seperti mengubur diri sendiri.
Dan kita?
hanya dua orang dewasa
yang terlambat selesai
di cerita yang seharusnya sudah mati,
kembali menyala tanpa ingin usai.
25 Maret 2026
--------------------------------------------------------------------------
Dan pada akhirnya, bukan karena apinya belum padam—tapi karena kita yang masih diam-diam mengingat bagaimana rasanya pernah tinggal di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar