BEN KETOK - Tentang suara yang mengatasnamakan bersama, tapi hanya berjalan untuk satu arah.

Ada saat di mana kebersamaan hanya menjadi istilah yang diulang, tanpa benar-benar dijalankan. Semua terdengar seperti kesepakatan, padahal yang terjadi hanyalah satu suara yang dipaksakan menjadi arah.
--------------------------------------------------------------------------



BEN KETOK 

Komitmen, kau sebut itu tentang kita,
tapi kau berdiri paling depan, sendirian membawa suara,
mengatasnamakan “bersama” dalam setiap kata,
padahal yang kau jaga hanya dirimu dan segala maunya.

Kau peluk prinsipmu seperti kitab suci tanpa cela,
tak boleh digugat, tak boleh disentuh logika,
padahal ia lahir dari keras kepala yang kau pelihara,
bukan dari kebijaksanaan yang matang oleh rasa.

Janji-janji kau tabur seperti hujan di musim kemarau,
ramai terdengar, tapi tak pernah benar-benar basah di hati yang tahu,
kau pandai merangkai kata hingga terlihat sendu,
namun kosong makna, hanya indah bagi telinga yang tak mau tahu.

Narasi brief yang kau banggakan itu,
kau poles rapi seolah paling tahu arah waktu,
padahal isinya hanya putaran egomu,
yang kau bungkus profesional agar terlihat bermutu.

Banyak notulen berguguran seperti daun di akhir musim,
setiap catatan mati sebelum sempat menjadi mimpi yang utuh dan legit,
bukan karena kurang usaha atau niat yang jernih,
tapi karena egomu selalu lebih ingin menang daripada memilih yang bersih.

Diskusi berubah jadi arena adu gengsi,
siapa paling keras, dia merasa paling berisi,
bukan lagi soal solusi atau empati,
tapi soal siapa yang tak mau kalah dalam opini.

Waktu kita kau buang seperti receh tak berarti,
dihabiskan untuk membenarkan diri sendiri,
sementara yang lain mencoba mengerti,
kau malah sibuk membangun tembok tinggi.

Untuk apa effort yang kami rajut dengan sabar,
menyusun satu per satu dengan hati yang benar,
jika di ujung kau patahkan tanpa kabar,
hanya karena tak sesuai dengan arah pikiranmu yang kasar.

Semua jadi tentang kepentingan yang kau sembunyikan rapi,
dibungkus istilah agar terlihat tinggi,
padahal itu hanya ambisi pribadi,
yang kau paksa menjadi keputusan kolektif yang basi.

Ben ketok itu kau jadikan palu kebenaran,
dipukul keras agar terdengar sebagai keputusan,
padahal itu hanya cara cepat menutup perbedaan,
tanpa pernah benar-benar memberi ruang pada pemikiran.

Circle-mu bertepuk tangan tanpa henti,
mengiyakan semua walau jelas tak pasti,
mereka bukan cermin, hanya gema yang mengamini,
tempat kau merasa benar tanpa harus mengoreksi diri.

Di lingkaran kecil itu kau jadi pusat semesta,
semua berputar sesuai arah langkahmu saja,
tak ada kritik, tak ada luka,
hanya kenyamanan palsu yang kau sebut “harmoni bersama”.

Kau bilang ini bukan untuk semua,
seolah ada standar tinggi yang harus dijaga,
padahal itu hanya batas yang kau ciptakan sengaja,
agar tak semua bisa melihat rapuhnya logika.

Manfaat? itu hanya kata yang kau sebut di awal,
hilang arah saat ego mulai mengambil alih kendali total,
yang tersisa hanya formalitas yang dangkal,
tanpa dampak nyata, tanpa tujuan yang kekal.

Kau sibuk terlihat benar di mata yang sempit,
lupa bahwa kebenaran tak butuh teriak yang pahit,
ia tumbuh dari rendah hati yang sulit,
bukan dari suara keras yang terus kau jahit.

Dan lucunya, kau sebut ini semua sebagai proses,
padahal hanya jalan memutar yang tak pernah beres,
kau ulang kesalahan tanpa pernah menyesal atau menepis,
seolah kegagalan itu hal biasa yang tak perlu ditelisik habis.

Akhirnya yang runtuh bukan hanya rencana,
tapi kepercayaan yang dulu kita jaga bersama,
pelan-pelan retak tanpa suara,
karena kau terlalu sibuk menjadi pusat cerita.

Dan saat semua ini benar-benar selesai,
kau akan tetap berdiri dengan dalih yang sama—rapi dan pandai,
sementara yang lain pergi membawa lelah yang tak ternilai,
menyadari… bahwa sejak awal, kita tak pernah benar-benar dipakai.

Priyo Noa 30 Maret 2026


--------------------------------------------------------------------------
Dan pada akhirnya, bukan keputusan yang paling melukai—tapi kesadaran bahwa sejak awal, suara kita tak pernah benar-benar dianggap ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAMI - rumah kecil yang saling menguatkan.

MERABA AKSARA - Awal dari segala rasa

SEMESTA LIRIH - Pada sunyi yang tak bersuara, semesta belajar bernapas perlahan.