DESAH NYIUR DI RIMBA SUNYI - Tentang sunyi yang tidak kosong, hanya terlalu penuh untuk dijelaskan.
Ada suasana yang terlihat tenang dari luar, tapi sebenarnya menyimpan banyak hal yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia tidak bersuara, tapi tetap terasa.
Tidak semua yang sunyi berarti kosong. Kadang, justru di dalam diam itulah hal-hal yang paling sulit dijelaskan tetap bertahan.
--------------------------------------------------------------------------
DESAH NYIUR DI RIMBA SUNYI
Di taman purba—
tempat waktu berakar dan sunyi berbuah,
ia datang tanpa nama,
hanya membawa debar yang sulit diterjemahkan.
Belantara rahim bumi menyambutnya,
lembap, hangat, penuh bisikan
yang tak pernah diajarkan manusia.
Di antara rimbun yang saling berpelukan,
dua buah muda bergantung tenang,
membulat sempurna dalam pelukan dahan,
seperti janji yang belum sempat diucapkan.
Ia menengadah,
dan dunia seolah berhenti di lengkung itu—
pada garis halus yang memanggil
lebih dalam dari sekadar pandangan.
Ujung jarinya menyentuh,
perlahan…
seakan takut membangunkan sesuatu
yang sejak awal memang sudah terjaga.
Dingin kulitnya menipu,
sebab di baliknya tersimpan kehidupan
yang berdenyut pelan,
menunggu untuk disapa.
Sebuah desah jatuh ke tanah,
meresap bersama akar-akar tua,
menjadi rahasia baru
yang akan dijaga bumi dengan setia.
Bilah kecil membuka jalan,
tidak kasar, tidak tergesa,
seperti naluri purba
yang tahu persis kapan harus menyibak.
Dan saat itu terbuka—
aroma liar menguar tanpa izin,
jujur, basah, dan tak bisa disangkal,
seperti rasa yang lama dikurung sopan santun.
Ia mendekat,
menyesap perlahan dari sumbernya,
membiarkan cairan bening itu
mengalir masuk…
ke tempat-tempat yang lama ia kosongkan sendiri.
Matanya terpejam,
dan taman purba itu
menjadi satu-satunya dunia yang tersisa.
Tak ada dosa di sana,
tak ada benar atau salah,
hanya tubuh, alam,
dan perjumpaan yang tak butuh alasan.
Dua buah muda tetap diam,
setia pada takdirnya—
menjadi bagian dari kisah
yang tak akan pernah diceritakan utuh.
Dan ketika ia pergi,
belantara hanya tersenyum dalam diam,
sebab ia tahu—
beberapa dahaga
tak pernah benar-benar ingin disembuhkan.
25 Maret 2026
--------------------------------------------------------------------------
"Karena yang paling lama tinggal bukan suara—melainkan apa yang pernah diam di dalamnya.
Dan mungkin, sunyi itu tidak pernah meminta untuk dipahami—hanya untuk dibiarkan tetap ada."
Komentar
Posting Komentar