Doa yang Tersesat di Tubuhmu - Tentang rasa yang awalnya diyakini, sampai akhirnya sadar itu hanya bentuk lain dari kehilangan arah.
Ada hal-hal yang kita yakini sebagai sesuatu yang baik, sampai perlahan berubah tanpa kita sadari. Dan saat akhirnya mengerti, kita justru sudah terlalu dalam untuk kembali.
Tidak semua yang terasa dekat dengan hati membawa kita ke arah yang benar. Kadang, kita hanya terlalu ingin percaya, sampai lupa mempertanyakan.
--------------------------------------------------------------------------
Doa yang Tersesat di Tubuhmu.
aku pernah mengira
cinta adalah ayat suci
yang turun perlahan di dadaku—
tenang, seperti subuh
yang tak pernah menuntut apa-apa.
namun di matamu,
aku belajar tafsir yang lain:
bahwa rindu bisa menjelma lapar,
dan iman bisa tergelincir
hanya oleh satu sentuhan.
kau ajari aku beribadah
tanpa kiblat, tanpa arah;
setiap dekapmu seperti fatwa
yang membenarkan segala
yang dulu kuharamkan dalam kepala.
aku menegukmu
bukan lagi sebagai kasih,
tapi candu yang lihai menyamar
jadi kebutuhan paling sakral—
padahal ia hanyalah
nafsu yang pandai bersolek.
di antara napas yang terburu,
aku mendengar langit retak perlahan;
tapi kita terlalu sibuk
menyebutnya musik,
agar tak merasa bersalah.
kau bilang:
“ini cinta.”
aku tertawa—
karena cinta tak pernah
menuntut kita mengkhianati diri sendiri
sedalam ini.
dan lihatlah kita sekarang,
dua manusia yang hafal dosa
lebih fasih daripada doa;
menyebut neraka seperti lelucon,
seolah ia tak punya pintu
yang benar-benar menunggu.
biarkan saja
malam mencatat semuanya,
sebagai arsip paling jujur
tentang bagaimana manusia
bisa tersesat dengan sadar—
dan tetap memilih tinggal.
sebab di bawah sunyi yang kita rawat,
kau bukan lagi kekasih,
melainkan berhala kecil
yang kubangun dari rasa takut
kehilangan sesuatu
yang sejak awal tak pernah suci.
dan aku—
adalah penyembah yang tahu salah,
namun tetap bersujud,
karena berhenti
terasa lebih menakutkan
daripada terbakar.
22 Maret 2026
--------------------------------------------------------------------------
Dan pada akhirnya, bukan karena kita tidak tahu itu salah—tapi karena meninggalkannya terasa lebih menakutkan daripada terus tersesat di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar