HILAH DIKSI - Tentang kata yang diatur sedemikian rupa, sampai maknanya tak lagi utuh.
“Tidak semua kata digunakan untuk menyampaikan kebenaran. Ada yang disusun rapi, dipilih dengan hati-hati, tapi justru menjauh dari maksud sebenarnya.”
HILAH DIKSI
Teringat daku pada satu masa yang kini telah moksa membawa serta rasa tanpa tersisa menjadi cerita.
Cerita lara perihal kenang akan sesosok atma berkelir senja jingga pencipta luka yang begitu sempurna.
Hadir tanpa sengaja suguhkan asmara yang memabukkan, hingga daku tersungkur tiada anggur dalam perjamuan romantika penghujung malam.
Celoteh abhipraya melantun begitu indah seolah arunika membawa serta asa yang baswara.
Kemudian daku semakin tenggelam pada sagara lara, ber riuh keindahan semu, berdasar sembilu, penyayat pilu.
Mungkinkah daku tersadar, jika pagi tidak mengingatkanku akan dinginnya kesepian.
Juga membuka mata ini yang telah begitu lama buta akan Harsa atas diri.
Akibat dari terjerat hilah diksi yang begitu rapi nyaris tak terdeteksi.
Hingga pagi mewartakan bahwa daku butuh hangat dari sebuah pelukan.
Segala asha asmara semu kini berlalu, melebur seiring kenang selaksa pilu.
Kala mantra ananda shanti telah mengambil perannya.
Niscaya ajab nan harsa adiwarna tercipta, moksalah senja jingga.
Sebab akan daku arungi nawasena, senada pagi torehkan arunika yang sebenarnya.
8 Mei 2024
--------------------------------------------------------------------------
“Dan pada akhirnya, yang tertinggal bukan lagi kebenaran—melainkan kata-kata yang berhasil membuatnya terlihat seperti itu.”
Komentar
Posting Komentar