SIMFONI DUA ORBIT - Tentang rasa yang tetap berputar, tanpa titik temu.
Ada hubungan yang tidak benar-benar menjauh, tapi juga tidak pernah sampai. Ia terus berjalan dalam jarak yang sama, seperti dua hal yang saling mengitari tanpa pernah bertemu.
Tidak semua yang saling dekat ditakdirkan untuk bersatu. Kadang, yang terjadi hanya saling mengelilingi—tanpa pernah benar-benar berhenti di tempat yang sama.
--------------------------------------------------------------------------
SIMFONI DUA ORBIT
Ia kini menjadi poros
bagi lingkar kecil bernama rumah—
menakar detak, menimbang jarak,
agar semesta tidak runtuh oleh kelalaian.
Di meja makan, ia adalah hukum gravitasi,
menahan segala yang hampir tercerai,
menyatukan sendok, piring, dan doa-doa
yang kadang diucap setengah percaya.
Namun jauh di balik lintasan itu,
ada orbit lain yang tak pernah usai berputar—
sebuah komet purba
yang jejak cahayanya menolak padam.
Ia menyebutnya: arsip langit.
Padahal itu adalah nyala pertama
yang dulu mengajari jantungnya
cara terbakar tanpa abu.
Kesetiaan kini ia kenakan seperti jas resmi—
rapi, terukur, tak boleh kusut,
meski di saku dalamnya terselip
surat yang tak pernah dikirim.
Ia hafal betul bagaimana pulang,
tahu letak pintu, arah angin dapur,
tahu kapan harus tersenyum
meski dadanya menyimpan musim lain.
Sebab cinta yang sah
tak selalu menjadi satu-satunya api;
kadang ia hanya perapian,
sementara yang lain adalah kebakaran yang disembunyikan.
Maka ia berjalan di dua bahasa:
satu untuk dunia yang menuntutnya utuh,
satu lagi untuk sunyi
yang tak pernah meminta penjelasan.
Dan setiap malam,
saat seluruh peran selesai dipentaskan,
ia kembali menjadi langit yang retak—
menampung dua bintang
yang tak pernah diizinkan bertabrakan.
27 Maret 2026
--------------------------------------------------------------------------
Karena tidak semua yang saling mendekat ditakdirkan untuk saling menetap.
Dan mungkin, yang kita jalani bukan kebersamaan—melainkan perputaran yang tak pernah selesai.
Komentar
Posting Komentar