Temanku Aku Mencintaimu - Rasa yang tumbuh tanpa rencana.
“Sajak ini lahir dari rasa yang tumbuh tanpa rencana—tentang pertemanan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, namun tak selalu memiliki ruang untuk diungkapkan.”
TEMANKU AKU MENCINTAIMU
Mungkin memang tidak mudah.
Semua berawal dari tak saling mengenal.
Aku siapa dan siapa kamu.
Waktu yang mempertemukan, aku dan kamu terhubung melalui perkenalan.
Hingga terjalin sebuah pertemanan.
Ku akui, dalam diam aku mulai menaruh hati.
Menyukai apa yang kau sukai, mengagumi paras indah yang kau miliki.
Meski ku tau tak akan mungkin kisah kita akan pernah terjadi.
Karena mungkin telah menjadi suratan, kita dipertemukan hanya untuk sebagai seorang teman.
Namun sepertinya kau pun menyadari.
Bahwa ada rasa yang berbeda pada diri ini.
Melalui tawamu, kau seolah menyadarkan ku.
Akan arti dari sebuah pertemanan dengan membatasi perasaan agar tak terlalu jauh merangkai harapan.
Sejujurnya, itu sedikit sakit ku rasa.
Sebagai insan yang tercipta berbekal rasa cinta aku merasa patah.
Diri selalu bertanya-tanya kenapa aku harus kalah oleh naskah sang pencipta yang katanya juga pecinta.
Meski batin terus menerus semakin tenggelam dalam kesakitan.
Namun tetap ku akui, semua itu belum cukup untuk menghimpun sebuah keberanian.
Bahkan mungkin, selamanya akan kusimpan.
Rasa cinta ini akan ku telan, dan menggantinya dengan agungnya pertemanan.
Karena aku tak ingin kehilangan tawa tulusmu.
Begitu juga aku tak ingin kehilangan senyum cerahmu, hanya karena keinginan ku untuk memilikimu.
Biarlah, sebuah rasa tetap menjadi rahasia.
Meskipun kutau aku tak Pandai untuk menyimpannya.
Aku hanya bisa berharap, entah sampai kapan nantinya.
Jika benar kau mengetahuinya, tetaplah berpura-pura tidak mengetahui, tanpa aku harus meminta nya.
Bukankah teman yang baik, akan menjadi seorang penyemangat temannya.
Jadi ku mohon kuatkan aku, untuk tetap menyimpan rasa cinta ini kepadamu, temanku.
6 April 2024
--------------------------------------------------------------------------
“Dan pada akhirnya, mungkin memang lebih baik tetap menjadi teman—meski hati diam-diam menyimpan rasa yang tak pernah sempat menemukan waktunya untuk dimiliki.”
Komentar
Posting Komentar