KITAB KECIL TENTANG RUMAH - Sebab tidak semua rumah hancur oleh orang ketiga.

Sajak ini tidak sedang membela siapa pun.
Tidak juga sibuk mencari siapa paling berdosa.
Ia hanya mencoba menyalakan lampu kecil
di lorong-lorong gelap bernama pernikahan,
tempat cinta bisa berubah dingin,
kesepian menjelma godaan,
dan kejujuran sering terlambat diucapkan.


KITAB KECIL TENTANG RUMAH 

Rumah itu masih berdiri.
Cat temboknya sopan,
tirainya wangi pelembut pakaian,
gelas-gelas tertata seperti keluarga harmonis
dalam iklan sirup menjelang lebaran.

Hanya saja,
di dalamnya ada dua manusia
yang sibuk menjadi furnitur.
Mereka tidur berdampingan
seperti dua makam tua yang lupa siapa dulu penghuni pertamanya.

Tak ada perang.
Tak ada ribut besar.
Sebab cinta yang benar-benar sekarat
biasanya mati pelan,
mirip rayap yang mengunyah fondasi rumah
tanpa suara.

Sang lelaki mulai akrab dengan langit-langit kamar,
yang tiap malam menatapnya kembali
seperti Tuhan yang lelah mendengar doa serupa.

Tubuhnya hidup, nalurinya dikandang.
Ia menjadi lilin yang dipaksa terus menyala
tanpa pernah disentuh api.

Sedang perempuan itu
berubah seperti jendela museum:
bersih dipandang, dingin disentuh.

Ia pandai sekali merawat rumah,
kecuali musim di dalam dada suaminya.

Lucu memang.
Sebagian orang mengira perselingkuhan lahir
dari ranjang dan paha.

Padahal ia lebih sering tumbuh
dari sendok makan yang tak lagi dipakai bercakap, dari mata yang berhenti mencari,
dari kalimat “terserah” yang diucapkan terlalu sering sampai terdengar seperti kutukan.

Dan di belahan sunyi yang lain,
hidup seorang perempuan yang nasibnya serupa gelas retak:
masih dipakai, tak pernah benar-benar dijaga.

Suaminya lelaki baik—
jenis manusia yang rajin mencari nafkah
agar bisa lupa cara mencintai.

Ia pulang membawa uang,
meninggalkan dirinya sendiri di luar pintu.
Maka semesta, dengan selera humornya yang menjijikkan, mempertemukan kembali
dua bekas luka yang dulu gagal menjadi takdir.

Mantan kekasih.

Ah, kata itu memang seperti bara di musim kemarau:
kelihatannya padam, tinggal menunggu angin
untuk kembali membakar hutan.

Awalnya cuma nostalgia kecil, sejenis salam basi yang dikirim menjelang tengah malam.
Lalu obrolan tumbuh seperti jamur di kayu lembap.
Tak ada niat buruk, katanya.

Manusia memang selalu memakai kata “katanya” untuk menidurkan nurani.
Mereka saling mendengar dengan ketelanjangan yang tak membutuhkan tubuh.

Sebab sebagian perselingkuhan lahir lebih dulu di telinga sebelum akhirnya turun ke ranjang.
Lelaki itu menemukan kembali perasaan menjadi dibutuhkan.

Perempuan itu menemukan kembali
arti dipandang sebagai manusia,
bukan sekadar penjaga dapur
dan mesin reproduksi keluarga.
Mereka lalu tenggelam di sungai yang mereka namai “kenyamanan”, meski airnya berbau dosa.

Betapa licinnya kesepian—
ia mampu mengubah pengkhianatan
terdengar seperti penyelamatan.

Dan rumah-rumah rusak selalu punya aroma yang sama:
doa yang mulai malas diaminkan, ciuman yang terdengar administratif, serta ranjang
yang lebih dingin dari meja autopsi.
Sampai akhirnya rahasia pecah.
Bukan karena Tuhan marah.

Hanya karena kebohongan-
sepandai apa pun disembunyikan,
tetap punya kebiasaan membusuk.

Sang suami menemukan semuanya.

Pesan-pesan itu, percakapan lembut yang tak pernah lagi ia berikan,
kata “sayang” yang kini terasa seperti pisau pinjaman.

Dan seperti kebanyakan lelaki
yang gagal menjaga rumahnya sendiri,
ia memilih menjadi badai setelah terlalu lama menjadi gurun.

Tangan beterbangan.
Mulut berubah kandang binatang.
Malam itu cinta dipukuli
sampai wajahnya tak lagi dikenali.
Mata lain berdatangan dengan wajah lapar tontonan.
Anak-anak menangis seperti alarm kecil
yang terlambat dipasang.

Sedang perempuan itu terduduk
memunguti dirinya sendiri di lantai rumah
yang dulu dibangun dari akad dan doa.
Ironis sekali.

Lelaki yang dulu sibuk mengabaikan
mendadak merasa paling kehilangan.
Seolah api berhak marah
saat kayu memilih terbakar di tempat lain.

Dan lelaki selingkuhan itu?
Ia cuma menjadi persinggahan sementara,
semacam payung bocor di tengah badai rumah tangga.

Tak ada pemenang di sana.
Hanya sekumpulan orang dewasa yang kalah melawan sepi,
lalu saling menghancurkan demi menutupi kenyataan bahwa mereka terlalu pengecut
untuk bicara jujur sejak awal.

Pada akhirnya, yang tersisa cuma:
mata lebam, pintu yang dibanting,
anak-anak dengan ingatan buruk, 
serta penyesalan yang datang seperti ambulans di kuburan— ramai, terlambat, dan tak berguna.

Priyo Noa 8 mei 2026


Dan akhirnya kita belajar:
rumah bukan sekadar tembok, cincin, atau status “masih bersama.”

Maka jika masih ada cinta tersisa,
rawatlah sebelum berubah asing.
Peluklah sebelum dingin menjadi kebiasaan.
Dan berbicaralah
sebelum kesunyian lebih fasih
daripada hati kalian sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAMI - rumah kecil yang saling menguatkan.

MERABA AKSARA - Awal dari segala rasa

SEMESTA LIRIH - Pada sunyi yang tak bersuara, semesta belajar bernapas perlahan.